webheader

 
 

Events

 

interesting stuff coming up...

 

Highlighted past events........

PPIA ANU AGM 2008

The result of PPIA ANU AGM 2008 elect Mr. Firman Pagarra as the new president of PPIA ANU.

agm08_5
agm08_1agm08_2
agm08_3agm08_4
agm08_6

 

Snowy Mountain Trip

Trip to preisher blue. Enjoy snowboarding, skiing or toboggans.

pic_snowy

 

PPIA Farewell Party

Say to some people that graduated this semester. They wil going home with their degree. The farewell party is taken place on 12 July 2008. It is sad when people we know leaving away from our life, however life must go on.

pic_farewell1
pic_farewell2pic_farewell3

 

Panel Discussion: World Food Crisis and its Impact to Indonesia

The discussion was held on 9 July 2008. The discussion featuring the head of Logistic Bureau of Indonesia, Mr Mustafa Abubakar. Mr. Mustafa points out that Indonesia have to domestically realize four important events accompanying the current global food crisis. Firstly, there is a more rigorous research on alternative energy such as biofuel. Second, however, the research increases the competitiveness of the search for food which results to the change – which unfortunately an increase - in the price of food. Third, there is a significant increase in the cost of production due to the increase in the price of fuel and global warming. Lastly, Indonesia has to face competition for water transportation due to the new emerging group of consumers in China and India. There are now approximately 800 millions people (600 in China and 200 in India) whom experiencing an increase in their purchasing power. Commodities and food are heavily absorbed in these two countries. Hence, many ships are now mainly imported to China and India.

pic_bulog1pic_bulog2
pic_bulog4

Mr. Mustafa further explains that Indonesia can see this food crisis event in two ways. Firstly, Mr. Mustafa argues that if Indonesia insists on importing bahan pangan pokok then it will put Indonesian economy on a high risk. This is due to the fact that not only that the price of food already increases twice even thrice, getting the food in the international market is now becoming very hard. Secondly, the food crisis event can be used as a momentum for the rebirth of Indonesia’s agricultural and food sector.

Mr. Mustafa feels that actually the current exchange price of commodities is very suitable to help Indonesian economy. He believes that Indonesia is completely able to turn this crisis as an opportunity since Indonesia has the human and natural resources for that. (Mugianto, 2008)

 

Suharto Legacy

Diskusi yang bertajuk Suharto’s Legacy: Pains and gains yang diadakan pada Selasa, 19 Februari 2008 di Manning Clark Lectue Theatre, ANU, menghadirkan 3 orang pembicara: Dr. Robert Cribb; Eric Hiariej, M.Phil; Dino Kusnadi.

pic_sl1

Robert Cribb menyampaikan ulasannya menggunakan perspektif sejarah yang sudah ditekuninya sejak beberapa decade yang lalu. Suharto baginya adalah sosok yang di satu sisinya memberikan banyak manfaat bagi bangsa Indonesia semisal kemajuan ekonomi, namun menyimpan persoalan dikemudian hari. Kejahatan hak asasi manusia, karupsi, kalusi dan nepotisme adalah beberapa warisan persoalan yang ditinggalkan oleh penguasa Orde Baru tersebut.

Senada dengan Robert Cribb, Dino Kusnadi yang juga spokesperson di Kedutaan Besar RI di Canberra menyampaikan pandangannya mengenai warisan Suharto. Menurut Dino, dibandingkan dengan dosa-dosanya, Suharto lebih banyak memberikan keuntungan bagi Indonesia. Dari segi politik luar negeri misalnya, Indonesia dianggap telah berhasil membangun penyeimbang dua pakta pertahanan dunia melalui inisiatif gerakan non bloknya. Selain itu, semasa jaya Suharto, Indonesia menjadi salah satu Negara yang amat diperhitungkan dunia dengan kekuatan ekonomi dan politiknya yang menjadi ikon Asia.

pic_sl2

Kendati demikian, menurut Eric Hiariej yang sedang menyelesaikan studi S 3-nya di ANU mengatakan bahwa Suharto justru mewariskan banyak kesulitan bagi Indonesia. Kejayaan ekonomi yang dibangun semasa rezimnya sejatinya amat rapuh. Terbukti ketika krisis ekonomi menerpa Asia Tenggara, Indonesia adalah satu Negara yang paling menderita karenanya. Belum lagi masalah politik. Suharto dianggap sebagai biang tidak berkembangnya demokrasi di Indonesia. Selama 32 tahun berkuasa kebebasan berpolitik tak mendapatkan tempatnya. Alih-alih dibebaskan, para kritikus malah dijebloskan ke penjara, atau bahkan dianiaya hingga menemui ajal.

Selain ketiga narasumber di atas, diskusi ini juga dihadiri oleh begawan-begawan ilmu social yang bercokol di ANU semisal Professor James Fox, Professor Ross McLeod, Dr. Margot Lyon, dan lain sebagainya. Diskusi ini dihadiri oleh kurang lebih 70 orang baik dari Australia dan Indonesia juga dari Negara lain yang menaruh perhatian pada dinamika politik Indonesia.

Sumber: Ulil Amri

 

 

 

 

 

 

 
      Copyright 2008 PPIA ANU